Apa Itu Madzhab Fiqih?

 

MediaMuslim.Info – Madzhab menurut ulama fiqih adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu’. Ini adalah pengertian madzhab secara umum, bukan suatu madzhab khusus.

Madzhab menurut bahasa (Arab) berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan madzhab bagi seseorang jika cara/jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Maka makan, minum dan tidur bukan merupakan madzhab bagi seseorang atau sekelompok orang. Menurut para ulama dan ahli yang dinamkan madzhab adalah manhaj (metode) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.

Dengan demikian perbedaan madzhab yang shohih bukanlah merupakan perbedaan dalam masalah Aqidah yang menjadikan umat terbagi menjadi beberapa firqoh (kelompok). Ulama-ulama madzhab fiqih sunni (dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah) semuanya adalah pengikut satu manhaj ‘Aqidah. Aqidah mereka adalah ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jam’ah. Sedangkan selain mereka adalah firqoh-firqoh yang menyimpang dari jalur seperti Khawarij dan Mu’tazilah. Jadi dikalangan ulama Ahlus Sunnah tidak ada perbedaan madzhab dalam aqidah. Semua sahabat berada dalam satu cara dalam aqidah, tetapi mereka berbeda pendapat dalam masalah furu’.

Bagi seorang peneliti, seyogyanya memperhatikan bahwa tidak semua masalah furu’ termasuk dalam apa yang dinamakan madzhab fiqih. Hukum-hukum yang tidak ada peluang perbedaan pendapat karena dalilnya qath’i (qath’i dari segi tsubut dan dilalah), seperti kewajiban shalat lima waktu, puasa bulan Ramadlan, zakat, ‎Shalat Zhuhur empat raka’at, Shalat Maghrib tiga raka’at dan lain-lain, tidak boleh disandarkan kepada madzhab seseorang. Maka tidak bisa dikatakan bahwa Madzhab Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat Zhuhur hukumnya wajib, Madzhab Malik berpendapat bahwa puasa Ramadlan hukumnya wajib, Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa khamar hukumnya haram.

Tidak ada kekhususan bagi suatu madzhab untuk masalah-masalah tersebut. Madzhab mereka dalam masalah-masalah ini adalah satu. Bahkan sampai sebuah pendapat atau hukum dapat dikatakan sebagai madzhab seseorang, jika menjadi sesuatu yang khusus baginya. Oleh karena itu, masalah-masalah yang disepakati tidak bisa disandarkan sebagai madzhab seseorang, meskipun dalilnya bersifat zhanni (zhanni dari segi tsubut dan dilalah). Seorang wanita menikahkan bibi dari jalur bapak maupun ibunya sudah menjadi kesepakatan sebagai sesuatu yang haram dikalangan Ahlus Sunnah wal Jam’ah, meski dalilnya khabar (hadits) ahad.

Imam Al Qarafi telah memberikan batasan masalah-masalah yang mungkin masuk dalam ruang lingkup madzhab dalam lima hal: hukum-hukum, sebab-sebabnya, syarat-syaratnya, penghalang-penghalangnya dan argumen-argumen untuk menetapkan sebab-sebab, syarat-syarat dan hal-hal yang menghalanginya. Di sini beliau ingin menyebutkan hal-hal yang menjadi perselisihan bukan yang disepakati.

Beliau menyebutkan diantara hal-hal yang disepakati. Untuk hukum seperti hukum witir. Untuk sebab seperti zawal (tergelincirnya matahari) dan melihat bulan. Untuk syarat seperti haul (satu tahun) syarat untuk zakat dan thaharah syarat untuk shalat. Untuk penghalang seperti haidl menjadi penghalang mengerjakan puasa dan shalat, gila dan tidak sadar menjadi penghalang seseorang dikenai taklif. Adapun yang dimaksud oleh beliau dengan argumen-argumen untuk menetapkan sebab-sebab, syarat-syarat dan hal-hal yang menghalanginya adalah semua bukti dan ketetapan yang dijadikan dasar oleh para hakim. Contohnya dua orang saksi untuk persengketaan harta, empat orang saksi untuk kasus zina, kesaksian dari yang bersangkutan dalam hal-hal tersebut jika tidak ada pernyataan menarik kembali. Semua hal-hal di atas tidak termasuk dalam hal yang dinamakan madzhab, karena sudah disepakati.

(Sumber Rujukan: Al Madkhal Ila Dirasatil Madarisi Wal Madzahibil Fiqhiyyah, DR. Umar Sulaiman Al Asyqar)

About these ads

No comments yet

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Pos-pos Terakhir

  • Komentar Terakhir

    Madrasah Aliyah Keju… on Dimanakah Hati Kita Berla…
    arianto (@suk_ari) on Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    nizhaambiq on Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    Mutia Mardani on Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    may(a) (angg)raeni (… on Feminisme Radikal, Sebuah Keba…
  • Blog Stats

  • Serba Serbi Tautan


    Susu Kambing Halal
    Tutorial CMS
    MedicRoom
    Food & Drink
    Dede TD
    Global Mediator
    Business And Trade
    KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
    Religion Blogs - Blog Top Sites
    My Popularity (by popuri.us)
  • RSS Info Sehat

  • Arsip

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d blogger menyukai ini: