Kerusakan Ahli Ibadah Karena Sikap Ifrath

MediaMuslim.InfoAdapun kerusakan ahli ibadah adalah karena sikap ifrath (berlebih-lebihan) dan melampaui batas dalam beribadah tanpa ilmu. Di antaranya: bersikap ifrath terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersikap Ifrath Terhadap Ulama, Ifrath Dalam Ibadah dan Zuhud.
Allah berfirman : “Katakanlah : Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia (sesat) usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka mengira bahwa mereka sedang berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi : 103-104 )

Bersikap ifrath terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kepada Nabi mereka dengan memujinya berlebihan hingga memberikan kepadanya sifat uluhiyyah dan rububiyyah. Kadang-kadang dengan perbuatan seperti berdoa, beristighatsah (mengadu), beristi’anah (meminta pertolongan, dan bertawassul kepadanya atau kepada kuburannya. (Akan dibahas masalah ini pada edisi mendatang, Insya Allah))

Bersikap Ifrath Terhadap Ulama.

Mereka juga berlebih-lebihan terhadap ulama mereka dengan menganggap mereka ma’shum (tidak memiliki kesalahan), taqlid buta (mengikuti tanpa dalil), menganggap mereka boleh merubah-rubah hukum dan menambah-nambahnya. Di antara mereka ada yang membuat patung-patung atau memasang gambar-gambarnya, bahkan membangun kuburan-kuburannya, mengagung-agungkannya kemudian mereka thawaf mengelilinginya, memakan tanahnya, mengusap dindingnya, i’tikaf (tirakatan) di sampingnya dan lain-lain. Semuanya mereka lakukan tanpa ilmu dan tanpa perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Dalil mereka hanyalah dzan (prakiraan) hasil dugaan pikirannya dan tebakan perasaannya. Mereka menganggap dengan perbuatannya tadi mereka mendapat berkah dan petuah atau mendapatkan yang mereka harapkan, melepaskan kesulitan, memberikan jalan keluar, memberikan jodoh dan lain-lain dari anggapan-anggapan mereka tanpa ilmu.

Ifrath Dalam Ibadah dan Zuhud.

Selain itu mereka juga berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah, puasa terus-menerus tanpa berbuka atau shalat malam terus-menerus tanpa tidur. Mereka juga tidak mau menikahi wanita karena dianggap mengganggu ibadah. Mereka tidak mau memakan daging dan makanan mewah (hanya memakan sayuran dan sejenisnya) juga karena mereka menganggap akan mengganggu ibadah (yang mereka menamakannya zuhud) bahkan mereka berusaha untuk menyengsarakan dirinya dengan berpuasa di tengah terik matahari atau tidak mau bernaung sampai berbuka atau tidak mau berpakaian kecuali yang paling jelek dan lain-lain dengan anggapan bahwa yang demikian lebih besar pahalanya.

Semua anggapan tadi muncul dari dzan (dugaan pikiran dan perasaannya) tanpa berdasarkan ilmu sama sekali. Maka inilah yang dinamakan bid’ah, muhdatsah, dhalalah yang membawa mereka kepada kesesatan!

Semua sifat-sifat di atas adalah persis dengan sifat-sifat nashrani. Allah menjelaskan sifat ghuluw mereka di dalam Al Qur’an: “Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas (ghuluw) dalam Dien kalian dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali kebenaran. Sesungguhnya Al Masih Isa bin Maryam adalah Rasulullah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh (ciptaan)-Nya.” (QS. An Nisa’ : 171 )

Dan Allah menceritakan tentang sikap ifrath mereka terhadap ulama, hingga menjadikan mereka sebagai rabb-rabb yang menghalalkan dan mengharamkan : “Mereka menjadikan pendeta-pendeta mereka dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah dan juga (mempertuhankan) Isa bin Maryam.” (QS. At Taubah : 31 )

Kemudian tentang ifrath mereka dalam ibadah dan zuhud, Allah berfirman : “Dan mereka mengada-adakan bid’ah rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya atas mereka tapi mereka sendirilah yang mengada-adakan untuk mencari ridla Allah … .”

Rahbaniyyah adalah sikap kependetaan, tidak beristri atau bersuami dan mengurung diri di biara-biara dan mengkhususkan diri hanya beribadah kepada Allah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thabari dan Nasa’i dari Ibnu Abbas bahwa ketika penguasa-penguasa nashrani merubah-rubah Injil, orang-orang yang beriman (baca: ahli ibadah) yang membaca Injil membantah dan menegur mereka. Kemudian mereka diancam dan disuruh agar berhenti bicara.

Maka sebagian mereka meminta dibuatkan tempat yang tinggi (untuk beribadah) dan agar diantarkan kepada mereka makanan dan minuman. Sebagian yang lain meminta ijin untuk mengembara memakan pohon-pohonan dan meminum air seperti binatang ternak (juga untuk beribadah) dan sebagian yang lain meminta dibaratkan rumah khusus untuk ibadah dan bercocok tanam. Inilah rahbaniyyah yang mereka ada-adakan. (Dinukil secara makna dari Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 333 )

Sedangkan tentang sifat ifrath nashrani terhadap ulama dan ahli ibadah hingga membangun kuburan-kuburan sebagai masjid dan memasang foto-foto dan patung-patung mereka telah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Aisyah radliyallahu ‘anha sebagai berikut : “Dari Aisyah radliyallahu ‘anhu: Bahwa Ummu Salamah menyebutkan kepada Rasulullah tentang gereja yang dia lihat di Habasyah yang dinamakan Maria. Dan apa yang dia lihat padanya berupa gambar-gambar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mereka adalah kaum yang jika ada seorang shalih di antara mereka mati atau hamba yang shalih, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan menggambar padanya gambar-gambarnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari Kitabus Shalah bab Shalat fil Bi’ah dan Muslim kitab Masajid bab An Nahyu an Bina’il Masajid Alal Qubur)

Hampir semua ahli ibadah terjerumus dalam kesesatan model nashrani ini, terutama aliran sufi yang hampir semua sifat-sifat nashrani di atas ada pada mereka.

Kesesatan model seperti ini lebih berbahaya dari yang sebelumnya, karena para pelakunya tidak mengetahui dan tidak merasa bahwa mereka dalam kesesatan, bahkan sebaliknya mereka merasa sedang berbuat baik dan beramal shalih. Lantas kapan mereka akan bertaubat!

Daftar Pustaka:
Fathul Bari Syarh Shahihul Bukhari oleh Ibnu Hajar.
Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid oleh Syaikh  Abdurrahman Ali Syaikh.
Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah oleh Al Lalika’i.
Iqtidha Shirathil Mustaqim oleh Ibnu Taimiyyah.
Shahih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi.
Badzlul Majhud oleh Syaikh Abdullah Al Jumaili.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Pos-pos Terbaru

  • Komentar Terbaru

    Siwak Indonesia (@Si… di Keutamaan Bersiwak
    cara ziarah kubur se… di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    Madrasah Aliyah Keju… di Dimanakah Hati Kita Berla…
    arianto (@suk_ari) di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    nizhaambiq di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
  • Blog Stats

  • Serba Serbi Tautan


    Susu Kambing Halal
    Tutorial CMS
    MedicRoom
    Food & Drink
    Dede TD
    Global Mediator
    Business And Trade
    KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
    Religion Blogs - Blog Top Sites
    My Popularity (by popuri.us)
  • RSS Info Sehat

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: