Terburu-buru Menyatakan Syahid

MediaMuslim.InfoJihad di jalan Alloh ‘Azza wa Jalla (Jihad fi sabilillah) merupakan suatu amalan yang sangat mulia dan ladang mencari pahala yang sangat besar. Namun, ada suatu masalah yang banyak tidak diketahui atau dilupakan oleh sebagian umat Islam, yaitu sering terburu-buru atau memastikan setiap orang yang gugur di medan jihad melawan orang-orang kafir adalah syahid. Bolehkah demikian ?
Dalam Syariat Islam dan Umat Islam yang berpegang teguh kepada jalan Islam, tiada keraguan sedikitpun mengenai keutamaan jihad yang begitu besar. Tetapi perlu kita sadari, bahwa seseorang yang berjihad haruslah memenuhi seluruh syarat-syarat agar upaya yang dilakukannya tersebut diterima yaitu iklas dan  mengikuti tuntunan Syariat Islam (mutaba’ah). Bisa saja seseorang berjihad hanya karena ingin dikatakan sebagai pemberani atau ingin dikenang sebagai pahlawan, hal ini membatalkan salah satu syarat jihad yaitu Ikhlas. Dan juga bisa saja dia gugur dalam keadaan bunuh diri yang hal ini tidak sesuai dengan contoh Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam (mutaba’ah).

Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Berapa banyak orang yang terbunuh di antara dua barisan (muslim dan kafir), Alloh-lah yang lebih mengetahui niatnya” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ikhlas merupakan amalan hati, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, kita tidak boleh bermudah-mudah dalam menyebut seseorang syahid. Karena hal ini sama saja dengan mengatakan bahwa seseorang tersebut masuk surga, sedangkan memastikan hal itu adalah terlarang kecuali apabila telah terdapat penetapan dari Alloh dan Rasul-Nya. Sebagaimana Nabi Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga … ” (Shohih, HR. Tirmidzi).

Al-Imam Al Bukhori rohimahulloh  menerangkan tentang ini dalam kitab shohihnya pada sebuah bab yang berjudul “Tidak Boleh Mengatakan Si fulan Syahid”. Lantas beliau memaparkan hadits tentang seseorang yang berperang bersama Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam melawan orang-orang musyrik dengan hebatnya sehingga orang-orang banyak yang memujinya. Tetapi Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Dia adalah penghuni neraka”. Apa sebabnya Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian ? Sahabat laki-laki tadi berkata kepada Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika laki-laki ini terluka parah dalam peperangan, ternyata dia tidak tahan terhadap sakitnya dan ingin segera mati. Maka dia menancapkan pedang ke tanah dan ujung pedang diletakkan pada ulu hatinya. Hingga dia menusukkan pedang tadi dan membunuh dirinya sendiri. Kemudian Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengamalkan amalan penduduk surga menurut penglihatan manusia padahal dia termasuk penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengamalkan amalan penduduk neraka menurut penglihatan manusia padahal dia termasuk penduduk surga.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahulloh ketika ditanya tentang hukum mengatakan si fulan syahid, beliau menjawab bahwa mengatakan seseorang itu syahid dapat ditinjau dari 2 sisi.

Pertama, apabila disebutkan secara umum, misalnya “Barangsiapa yang terbunuh di medan jihad maka dia syahid, siapa yang terbunuh dalam membela hartanya maka dia syahid, dan seterusnya”. Maka ucapan seperti ini diperbolehkan.

Kedua, apabila dikaitkan dengan orang tertentu seperti mengatakan si fulan syahid. Maka hal ini tidak diperbolehkan, kecuali kepada orang yang telah dipersaksikan (ditetapkan) oleh Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia syahid atau umat telah bersepakat atas kesyahidannya.

Oleh karena itu itu kita tidak boleh memastikan setiap orang yang meninggal ketika berperang atau berjihad melawan orang-orang kafir sebagai syahid karena bisa jadi orang ini seperti laki-laki dalam hadits di atas. Walaupun kita tetap memberikan hukum dzohir baginya yaitu dia dikubur tanpa dimandikan, tanpa dikafani (dikubur bersama darah dan bajunya), tanpa disholati. Dan inilah sikap pertengahan yang berada diantara sikap berlebihan terhadapnya (dengan menyebut sebagai syahid) dan sikap buruk sangka terhadapnya. Dan sikap yang paling baik adalah agar kita selalu mendoakan orang-orang yang gugur dalam berjihad di jalan Alloh agar termasuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan syahid dan kita juga mendoakan agar mereka dibangkitkan pada hari kiamat nanti dengan darah-darah mereka, dan datang menghadap Alloh dengan aroma seharum minyak kasturi. Wallohu ‘alam.

ID Penulis: Muhammad

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Pos-pos Terbaru

  • Komentar Terbaru

    Siwak Indonesia (@Si… di Keutamaan Bersiwak
    cara ziarah kubur se… di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    Madrasah Aliyah Keju… di Dimanakah Hati Kita Berla…
    arianto (@suk_ari) di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    nizhaambiq di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
  • Blog Stats

  • Serba Serbi Tautan


    Susu Kambing Halal
    Tutorial CMS
    MedicRoom
    Food & Drink
    Dede TD
    Global Mediator
    Business And Trade
    KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
    Religion Blogs - Blog Top Sites
    My Popularity (by popuri.us)
  • RSS Info Sehat

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: