Kesetaraan Hukum dalam Islam

MediaMuslim.InfoPermasalahan persamaan atau kesetaraan penerapan hukum merupakan masalah yang senantiasa menarik perhatian. Betapa banyak upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mewujudkannya agar hukum-hukum yang berlaku dapat diterapkan kepada siapa saja. Sejumlah tokoh negarawan telah berusaha semaksimal mungkin untuk menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk undang-undang demi tercapainya sebuah cita-cita yang diidam-idamkan.

Agama Islam yang datang sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta telah menetapkan prinsip kesetaraan dalam hukum. Bahkan dalam masalah ini, Islam telah mendahului para penyeru kesetaraan hukum dari kalangan tokoh-tokoh negarawan di berbagai masa. Sudah barang tentu, kesetaraan yang ditawarkan oleh Islam bukan semata-mata bersifat teoritis sebagaimana yang terjadi di berbagai negara. Hukum buatan manusia seakan-akan sangat sulit untuk diterapkan secara merata untuk seluruh lapisan. Hanya sedikit saja yang bisa diterapkan secara merata, itupun tidak terlepas dari pihak-pihak yang mempunyai kepetingan-kepentingan tertentu.

Kesetaraan hukum dalam Islam telah dibuktikan secara nyata oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat beliau dan terus dilaksanakan oleh masyarakat muslimin di seluruh dunia. Kita akan melihat sekelumit contoh-contoh nyata kesetaraan hukum dalam Islam yang telah diterapkan dan akan senantiasa diterapkan di negeri-negeri muslim.

Contoh pertama adalah masalah obyek pembebanan syari’at Islam. Pembebanan syari’at berlaku untuk semua kalangan yang tidak mempunyai udzur baik berupa shalat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya.

Contoh kedua adalah Shalat, yang merupakan rukun Islam kedua, menunjukkan sebuah kesetaraan yang dapat terlihat jelas. Kaum muslimin berdiri berjajar dalam satu barisan tanpa membedakan status sosial, usia, dan warna kulit. Demikian pula dalam hal pakaian ihram yang menyatukan muslimin dari seluruh penjuru dunia.

Hukum-hukum had ditegakkan bagi siapa saja yang memang semestinya menerimanya tanpa ada pengecualian. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi di umat-umat lain yang hanya menerapkan hukuman kepada orang lemah saja. Telah terjadi sebuah peristiwa pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita dari Bani Makhzum di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian keluarga wanita inipun meminta bantuan kepada Usamah bin Zaid, yaitu orang yang sangat dicintai oleh Nabi, untuk memohon kepada Nabi agar diringankan hukumannya. Ketika Usamah menyampaikan maksudnya kepada Nabi, beliau bereaksi dengan sikap marah seraya berkata, “Apakah engkau hendak memohon keringanan kepadaku dalam masalah hukum-hukum had yang telah ditetapkan oleh Allah?” Kemudian beliau berkhutbah sambil berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya yang menyebabkan tersesatnya umat-umat sebelum kalian adalah sikap mereka di mana jika ada seseorang yang berkedudukan mencuri, mereka membiarkannya (tidak menerapkan hukuman), namun jika pelakunya adalah orang lemah maka hukuman ditegakkan. Demi Allah seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, maka sesungguhnya Muhammad sendiri yang akan memotong kedua tangannya.”

Penerapan qishash kepada semua pihak meskipun terdapat perbedaan kedudukan. Ada seorang lelaki yang bermaksud untuk mengadu suatu permasalahan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab, yang saat itu sedang sibuk. Umar pun berkata dengan nada marah, “Mengapa orang-orang jarang mengadu kepadaku ketika aku longgar, namun ketika aku sibuk mereka selalu mengadu kepadaku?”, kemudian beliau memukul orang tadi dengan tongkat karena marah. Lelaki itupun hanya bisa pasrah kemudian pulang dalam keadaan sedih. Beberapa saat kemudian Umar menyadari kekeliruannya karena menzhalimi orang itu. Beliaupun memanggilnya untuk menawarkan qishash atas dirinya seraya menyerahkan tongkat untuk dipukulkan ke tubuhnya. Namun lelaki tadi menolak dan mengikhlaskannya. Umar pun kemudian masuk ke dalam rumahnya lalu shalat dua rakaat. Beliau kemudian berkata kepada dirinya sendiri, “Wahai Ibn Al-Khattab, dahulu engkau hina kemudian Allah mengangkat derajatmu. Dahulu engkau sesat, kemudian Allah memberikan hidayah kepadamu. Dahulu engkau lemah, kemudian Allah memberikan kekuatan kepadamu, bahkan menjadikanmu sebagai khalifah. Lalu datang seorang lelaki hendak mengadu kepadamu namun engkau malah menzhaliminya. Apa yang akan engkau katakan di hadapan Allah kelak?” Beliaupun terus menyesali perbuatannya dan menangis hingga orang-orang mengkhawatirkan keadaan dirinya. Kita dapat mengambil kesimpulan dari kisah ini, betapa Islam benar-benar menjunjung tinggi kesetaraan hukum, sampai-sampai seorang khalifah mau melakukan hal seperti ini.

Terwujudnya kesetaraan hukum dalam masalah pengadilan suatu perkara tanpa membedakan apakah dia tua atau muda, muslim atau kafir. Ada dua contoh dalam masalah ini:

  • Contoh pertama, ketika datang seorang lelaki kepada Umar bin Khattab untuk mengadukan Ali bin Abi Thalib. Umar berkata kepada Ali, “Berdirilah wahai Abu Al-Hasan dan duduklah di samping orang yang bersengketa denganmu.” Maka berdirilah Ali dengan wajah masam kemudian duduk di sebelah lelaki tersebut. Setelah mengemukakan masalah, Umar kemudian memutuskan perkara di antara mereka berdua. Kemudian setelah masalah selesai dan lelaki tersebut pergi, Umar berkata kepada Ali, “Ada apa sebenarnya engkau ini, mengapa wajahmu berubah ketika aku menyuruhmu duduk di sebelah lelaki tadi? Apa ada hal yang tidak engkau sukai?” Ali kemudian menjawab, “Benar, memang aku tidak suka. Mengapa engkau memanggilku dengan nama kunyah di depan lelaki tadi. Pemanggilan dengan nama kunyah termasuk bentuk pemuliaan terhadap orang yang dipanggil. Mengapa engkau tidak mengatakan saja “Berdirilah wahai Ali dan duduklah di samping lelaki ini” ? Kemudian Umar pun mencium kening Ali bin Abi Thalib karena kagum akan sikapnya.

  • Contoh kedua, yaitu apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab ketika menegakkan hukuman qishash kepada putra Amr bin Al-‘Ash karena pengaduan seorang penduduk Mesir. Pada saat itu, putra Amr bin Al-‘Ash kalah dalam lomba berkuda dengan seorang penduduk Mesir. Kemudian dia berbuat zhalim terhadap orang Mesir tersebut dengan menggunakan ketinggian kedudukan ayahnya yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Umar pun memanggil putra Amr bin Al-‘Ash dan sekaligus bapaknya. Seraya menegakkan qishash, Umar berkata kepada Amr bin Al-‘Ash dengan perkataan yang sangat masyhur, “Wahai Amr, sejak kapan engkau memperbudak manusia, padahal mereka terlahir dari rahim-rahim ibu mereka dalam keadaan merdeka.”

Inilah agama Islam yang senantiasa menyerukan kepada keadilan dan kesetaraan hukum dalam berinteraksi dengan sesama. Dan demikian pula kaum muslimin yang dipelopori oleh generasi terbaik mereka, dengan keikhlasan mereka menerapkan prinsip-prinsip kesetaraan dengan sebaik-baiknya. Karena memang dengan inilah kenikmatan akan dirasakan oleh manusia, dengan kesetaraan hukum yang tanpa membedakan warna kulit, bahasa, dan negara.

(Sumber Rujukan: Al-Musaawaatu Al-Haqqatu, diterjemahkan secara bebas oleh Al-Akhi Rizal Alifi)

Ditulis Oleh Al-Akhi Rizal Alifi

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Pos-pos Terbaru

  • Komentar Terbaru

    Siwak Indonesia (@Si… di Keutamaan Bersiwak
    cara ziarah kubur se… di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    Madrasah Aliyah Keju… di Dimanakah Hati Kita Berla…
    arianto (@suk_ari) di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    nizhaambiq di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
  • Blog Stats

  • Serba Serbi Tautan


    Susu Kambing Halal
    Tutorial CMS
    MedicRoom
    Food & Drink
    Dede TD
    Global Mediator
    Business And Trade
    KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
    Religion Blogs - Blog Top Sites
    My Popularity (by popuri.us)
  • RSS Info Sehat

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: