Wanita Yang Saling Menyusukan Anak Mereka

MediaMuslim.InfoSeseorang bertanya kepada Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang permasalahan yang berkaitan dengan hubungan yang terjadi akibat persusuan. Pertanyaannya adalah sebagai berikut: “Ada dua orang wanita, yang pertama mempunyai seorang anak laki-laki, yang kedua mempuanyi anak perempuan, mereka saling menyusukan anak yang lain. Siapa di antara saudara-saudara mereka yang boleh dinikahi oleh yang lain ?”
Permasalahan ini haruslah kita pahami, agar tidak terhindar dari hal-hal yang merugikan kehidupan kita baik di dunia maupun diakhirat. Dan semoga saja dengan adanya fatwa yang singkat ini akan memberikan kita pemantapan pemahaman mengenai wanita-wanita yang boleh dinikahi.

Berikut ini jawaban Asy-Syaikh Bin Baz terhadap pertanyaan diatas:

Apabila seorang perempuan menyusukan seorang anak kecil di bawah umur dua tahun lima kali susuan atau lebih, maka anak tersebut menjadi anaknya dan anak suaminya yang memiliki susu itu. Dan seluruh anak dari wanita tersebut dengan suaminya itu atau dengan suami terdahulunya menjadi saudara bagi anak susuan itu. Seluruh anak suami wanita yang menyusui baik dari wanita itu ataupun dari istri yang lain adalah saudara bagi anak susuannya. Seluruh saudara wanita yang menyusui dan saudara suaminya adalah paman bagi anak susuannya. Demikian pula Bapak wanita yang menyusui dan Bapak suaminya adalah kakek dia dan Ibu wanita yang menyusui serta ibu suaminya adalah nenek.

Hal ini berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan ibu-ibu kalian yang menyusukan kalian dan saudara kalian yang sesusu” [QS. An-Nisa’: 23]

Serta sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Sesuatu diharamkan dengan sebab penyusuan sebagaimana apa-apa yang diharamkan oleh sebab nasab” dan yang artinya: “Tidak berlaku hukum penyusuan kecuali dalam masa dua tahun”.

Dan berdasarkan hadits dalam Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Adalah yang disyariatkan dalam Al-Qur’an dahulu sepuluh kali susuan yang jelas, menyebabkan ikatan kekerabatan. Kemudian dihapus dengan lima kali susuan yang jelas hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat sedangkan masalah tersebut tetap dengan keputusannya (lima kali susuan)”. (Hadits ini diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dengan lafazh sedemikian, sedangkan asalnya terdapat dalam Shahih Musim) [Fatawa Da’wah Syaikh Bin Baz Juz I]

(Sumber tulisan: Kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Pos-pos Terbaru

  • Komentar Terbaru

    Siwak Indonesia (@Si… di Keutamaan Bersiwak
    cara ziarah kubur se… di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    Madrasah Aliyah Keju… di Dimanakah Hati Kita Berla…
    arianto (@suk_ari) di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    nizhaambiq di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
  • Blog Stats

  • Serba Serbi Tautan


    Susu Kambing Halal
    Tutorial CMS
    MedicRoom
    Food & Drink
    Dede TD
    Global Mediator
    Business And Trade
    KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
    Religion Blogs - Blog Top Sites
    My Popularity (by popuri.us)
  • RSS Info Sehat

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: