Membawa Anak ke Alam Cerita

MediaMuslim.InfoBercerita kepada anak-anak berbeda dengan bercerita kepada orang dewasa. Bercerita kepada anak lebih menitik beratkan terhadap penyampaian nilai moral dalam bentuk yang menarik, sehingga anak bisa menyerapnya tanpa harus merasa didoktrin. Anak-anak bukanlah manusia dewasa yang sudah siap mendengarkan materi-materi yang berat dan serius. Oleh karena itu agar tujuan tercapai, bercerita kepada anak diperlukan kiat-kiat khusus dan jitu. Mari kita memahami kiat-kiat khusus berikut ini agar bercerita kepada anak menjadi menarik dan tepat sasaran.
Langkah yang pertama adalah mimilih cerita yang akan dibacakan yaitu yang kandungannya mudah dipahami, membangkitkan perhatian anak dan menyentuh perasaan. Orang tua harus membaca terlebih dahulu cerita-cerita itu guna menyeleksi kelayakkannya untuk dibacakan atau dibaca anak, agar tidak malah merusak AKAL dan AGAMA anak. Ini diperlukan mengingat zaman sekarang begitu banyak cerita anak yang bobrok muatannya.

Yang paling Utama adalah hindari cerita-cerita yang merusak AQIDAH dan AGAMA anak. Cerita yang selalu dikaitkan dengan atau dari “Timur Tengah” tidak selalu sesuai dengan Islam, seperti cerita Aladin dan Lampu Ajaib, Aladin dan Cincin Sulaiman, serta cerita-cerita yang terkenal dalam 1001 Malam lainnya (Cerita-cerita ini sebenarnya bukan berasal dari tulisan bangsa Arab melainkan dari tulisan kaum zindiq dan kaum yang tidak berilmu yang berada di luar Arab seperti dari India, terdapat banyak kebohongan baik masalah sejarah Islam sampai masalah Aqidah. Wallahu ‘Alam)

Badan Pengawas pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Kerajaan Arab Saudi telah mengatakan bahwa cerita-cerita tersebut mengajarkan hal-hal yang merusak AQIDAH. Misalnya jin dapat memberikan bantuan kepada orang yang memintanya, cincin dapat menyelamatkan manusia dari bencana, dan bolehnya tunduk kepada kekuasaan jin. Termasuk yang harus dihindari adalah cerita-cerita horor yang dapat menumbuhkan jiwa pengecut pada anak. Bisa jadi anak yang diberikan cerita horor akan selalu mengompol di tempat tidur, gara-gara takut masuk kamar mandi pada malam hari.

Jangan memaksa anak untuk mendengarkan cerita yang tidak disukainya atau menceritakannya pada waktu yang tidak menyenangkan. Pertimbangkan untuk memberikan cerita sebelum tidur. Kebiasaan ini dapat mempererat hubungan anak dan orang tua serta menghilangkan rasa takut atau tertekan dalam diri si anak, sehingga ia akan terhindar dari mimpi yang menakutkan. Cerita sebelum tidur juga akan melekat dengan mudah dalam ingatan si anak, sehingga tidak mudah dilupakan dan segera membaur serta menetap dalam ingatannya ketika ia tertidur.

Langkah selanjutnya adalah memberikan kesempatan untuk mendiskusikan isi cerita tersebut, seperti dengan memberikan pertanyaan, “Pikirkanlah apa yang akan dijawab oleh Ali ?”,”Apakah yang akan dilakukan oleh Abu Hurairoh kemudian ?”,”Siapa yang benar diantara keduanya?”,”Apakah panglima tersebut berhasil menaklukan musuh-musuh kaum muslimin?”, dan lain-lainnya.

Jangan menyamapikan cerita secara doktrinal sehingga justru mematikan daya imajinasi anak. Menyampaikan cerita secara doktrinal bisa berupa membebani mereka untuk menghafalnya, atau menghafal nama-nama, tahun, tempat kejadian. Yang seperti ini hanya akan membuat anak melupakan substansi dan nilai yang terkandung dalam cerita tersebut.

Usahakan memberikan visualisasi cerita lewat gerakan dan perubahan suara. Tidak berarti anda harus berlari-lari di depan anak untuk menggambarkan seseorang naik kuda. Anda bisa menggunakan tangan kanan sebagai tokoh A dan tangan kiri sebagai tokoh B, dan perubahan suara untuk menggambarkan dialog A dan B. Sedangkan untuk kuda yang berlari bisa diganti dengan suara ‘keteplok- keteplok’.

Pada setiap cerita upayakan untuk menitikberatkan pada pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari sebuah kejadian di dalam cerita, dan uapayakan mereka memahami pelajaran-pelajaran tersebut. Pastikan bahwa mereka mengikuti jalannya cerita dan tidak ada yang meninggalkan tempat, terutama untuk anak masih kecil atau di bawah 5 tahun. Di akhir cerita, berilah pertanyaan kepada mereka tentang hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut. Dibolehkan untuk mengakhiri cerita sebelum sampai pada akhir cerita, agar mereka penasaran, sehingga mereka berusaha untuk mengikutinya sampai akhir. Terutama jika cerita tersebut dipotonng pada bagian yang sangat menarik. Bisa juga cerita dijadikan sebagai ‘penghargaan’. Misalnya, anak yang tidak melakukan kesalahan boleh mendengarkan cerita yang ia sukai, sedang yang melakukan kesalahan untuk sementara waktu tidak boleh mendengarkan cerita.

Iklan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terbaru

    Siwak Indonesia (@Si… di Keutamaan Bersiwak
    cara ziarah kubur se… di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    Madrasah Aliyah Keju… di Dimanakah Hati Kita Berla…
    arianto (@suk_ari) di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    nizhaambiq di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
  • Blog Stats

  • Serba Serbi Tautan


    Susu Kambing Halal
    Tutorial CMS
    MedicRoom
    Food & Drink
    Dede TD
    Global Mediator
    Business And Trade
    KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
    Religion Blogs - Blog Top Sites
    My Popularity (by popuri.us)
  • RSS Info Sehat

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: