Hukum Menggunakan Alat Bantu Untuk Ru’yat Hilal

MediaMuslim.InfoRu’yat hilal dengan mata telanjang adalah suatu yang hampir mustahil sebelum hilal tersebut berusia tiga puluh jam. Disamping itu kadang kala hilal tidak mungkin terlihat karena cuaca yang buruk. Berdasarkan hal tersebut, bolehkah mempergunakan maklumat ilmu falak untuk menentukan waktu dan tempat yang memungkinkan untuk menunggu hilal baru dan untuk menunggu awal bulan Romadhon, apakah kami wajib melihat bulan baru (hilal) sebelum kami memulai puasa bulan Romadhon?

Berikut Jawaban Asy-Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajid
Alhamdulillah, boleh mempergunakan alat bantu seperti teropong dan lain sejenisnya dalam ru’yat hilal. Dan tidak boleh bersandar kepada ilmu falak dalam menetapkan awal bulan Romadhon atau Hari Raya. Sebab Alloh ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya tidak mensyariatkan hal tersebut, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Yang disyariatkan bagi kita adalah penetapan awal dan akhir bulan Romadhon dengan ru’yat Hilal Romadhon untuk menetapkan awal Romadhon dan hilal Syawal untuk menetapkan akhir Romadhon serta Hari Raya I’edul Fitri. Alloh ‘Azza wa Jalla telah menjadikan hilal sebagai ketetapan waktu bagi umat manusia dan untuk menetapkan ibadah haji. Seorang muslim tidak boleh menetapkan waktu-waktu ibadah dengan selainnya seperti, puasa bulan Romadhon, Hari Raya ‘Iedul Fitri, haji, puasa kifarat bagi yang membunuh tanpa sengaja, kifarat zhihar dan sejenisnya. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Barangsiapa di antara kamu ada yang melihat hilal maka berpuasalah.” (QS: Al-Baqarah: 185)

Dalam ayat lain Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah :”Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji” (QS: Al-Baqarah: 189)

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berhari rayalah kamu karena melihat hilal, jika pandangan melihat hilal terhalang olehmu maka genapkanlah bilangan bulan tiga puluh hari.”

Berdasarkan nash-nash tersebut, bagi setiap orang yang tidak menyaksikan hilal di daerah mereka dalam keadaan cuaca terang maupun buruk untuk melengkapi bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari.(Lihat Fatawa Lajnah Daimah X/100)

Hal itu jika tidak terlihat hilal di tempat lain, jika ternyata hilal telah terlihat di tempat lain menurut kriteria syar’i maka kaum muslimin yang lainnya wajib berpuasa, itulah pendapat mayoritas ahli ilmu. Wallahu a’lam.

(Sumber Rujukan: Islam Tanya & Jawab, Oleh Asy-Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajid)

< Prev (Orang Yang Memiliki Jiwa Besar)   (Bidadari yang Cantik Jelita) Next >
Iklan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Tulisan Terakhir

  • Komentar Terbaru

    Siwak Indonesia (@Si… di Keutamaan Bersiwak
    cara ziarah kubur se… di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    Madrasah Aliyah Keju… di Dimanakah Hati Kita Berla…
    arianto (@suk_ari) di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
    nizhaambiq di Cara Berziarah Kubur Sesuai De…
  • Blog Stats

  • Serba Serbi Tautan


    Susu Kambing Halal
    Tutorial CMS
    MedicRoom
    Food & Drink
    Dede TD
    Global Mediator
    Business And Trade
    KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
    Religion Blogs - Blog Top Sites
    My Popularity (by popuri.us)
  • RSS Info Sehat

  • Arsip

  • %d blogger menyukai ini: